JULUKAN sebagai Kota Patriot ­kini memang melekat dengan Kota Bekasi. Apalagi julukan tersebut ­turut disertakan pada lambang ­resmi Kota tersebut. Julukan tersebut sempat dilirik Kabupaten Karawang saat memproses pembuatan ­lambang resminya di tahun 1963, tetapi diprotes sejumlah pihak.
Budayawan Bekasi Ali Anwar mengatakan, julukan kota patriot disematkan karena daerah tersebut sempat menjadi medan pertempuran yang membuat penjajah gentar di masa perang, selepas Indonesia merdeka pada 1945.
Kala itu, daerah tersebut yang merupakan bagian dari Kawedanan Jatinegara, Karesidenan Batavia yang menjadi lokasi penting pertahanan Indonesia dari upaya Sekutu yang ingin menguasai Jawa Barat melalui jalur pantai utara.
Medan yang menggentarkan
Di Bekasi, tak hanya tentara regu­ler Republik semisal Barisan Ke­aman­an Rakyat, Tentara Keamanan Rakyat yang berjaga. Bahkan warga dengan segala keterbatasan dan kemampuan yang dimiliki pun ikut mempertahankan daerah itu Bekasi dari musuh.
"Sampai-sampai para pedagang yang berjualan ke Batavia pun punya peran penting. Mereka kembali de­ngan membawa informasi seputar rencana pergerakan Sekutu. Jadi sambil berdagang, mereka pun berperan sebagai informan," kata Ali.
Ali pun menyebutkan sejumlah tanggal penting yang menandai pertempuran sengit yang terjadi di sana.
Pada 19 Oktober 1945, sebanyak 90 tentara Jepang yang akan dikirimkan ke Subang menggunakan kereta dicegat di ruas antara Stasiun Kota Bekasi dan aliran Kali Bekasi. Pertempuran berdarah pun tumpah dengan akhir kemenangan para pejuang tanah air.
Kemudian pada 23 November 1945, pesawat pengangkut tentara Inggris jatuh setelah diserang pejuang kita. Ali menyebutkan, saking sengitnya perlawanan yang diperlihatkan para pejuang negeri, tentara musuh sampai-sampai harus ber­pura-pura sakit saat akan ditugaskan ke Bekasi.
"Soalnya dia merasa kalau tugas di Bekasi, kalau tidak tewas, akan terluka," ucapnya. Setelah dua tahun pertempuran, perlahan kekuatan di sana bobol juga. Front penjagaan yang semula berada di Cakung, akhirnya mundur ke Kranji, Kali Bekasi, lalu Bulakkapal.
Daerah itu dikuasai musuh setelah serangan yang dilancarkan pada 21 Juli 1947. Namun dalam situasi demikian, pejuang Bekasi dari Hizbullah yang jasanya kini dianu­gerahi gelar pahlawan nasional yakni KH Noer Alie tak lantas tinggal ­diam. Noer Alie memutuskan be­rang­kat ke Yogyakarta untuk menemui Panglima Besar Jenderal Sudirman meminta petunjuk.
"Jenderal TNI Oerip Soemohardjo yang menemui Noer Alie mengarah­kan agar perlawanan dilakukan di wilayah Karawang-Bekasi, tapi secara bergerilya tanpa mengenakan atribut kemiliteran," katanya.
Sebagai penanda berbagai peristiwa heroik di Bekasi, sejumlah monumen pun dibangun. Antara lain di dekat Kali Bekasi dan rel kereta dekat stasiun Jalan Ir H Djuanda, di bundaran Bulan-bulan, di Hutan Kota Bekasi, dan lainnya. Sebagian besar menyertakan simbol bambu runcing yang kini menjadi salah satu ikon Kota tersebut.
Namun satu monumen yang dinilai Ali paling historis ialah tugu di simpang Jalan Agus Salim. Hal itu karena tugu tersebut merupakan karya murni dari warga.
Tugu de­ngan tinggi sekitar dua meter itu berbentuk kerucut di bagian atasnya. Pada sisi permukaan luar kerucut tersebut, menempel sejumlah atribut khas pertempuran, mulai dari pe­cahan peluru, pistol, mortir, granat, dan lainnya.
"Itu semua adalah senjata asli bekas pertempuran yang terjadi di Bekasi," katanya. Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi menyatakan julukan itu masih relevan.
Bahkan tak boleh luntur hingga kapan pun. "Jiwa patriot itu masih ada dan ditunjukkan dengan pola per­juangan saat ini, yakni memba­ngun kemajuan peradaban," katanya.
Jawara, dari pejuang hingga preman
Pemerintah Kabupaten Bekasi lebih senang de­ngan sebutan kota industri meski kabupaten ini mendapat julukan sebagai kotanya para jawara.
Jika ditelusuri, julukan ini berkaitan erat dengan sejarah daerah tersebut di masa penjajahan. Sejarawan Ali Anwar mengatakan, kota jawara mengandung makna bahwa masyarakatnya memiliki jiwa pejuang, pencinta, dan pembela tanah air serta daerahnya.
“Mengapa golok? Karena senjata yang dimiliki masyarakat Bekasi dari zaman dulu, ya itu golok. Tetapi golok itu untuk sehari-sehari seperti untuk menebang pohon, meraut, hingga memotong hewan, bukan golok sekadar buat dipajang. Pada masa revolusi melawan penjajah, golok mau tidak mau ber­fungsi melawan mereka (penjajah),” kata Ali, mengacu pada gambar golok pada lambang Kabupaten tersebut.
Menurut Ali, pada zaman dulu, daerah itu banyak dikuasai oleh tuan tanah dari Tiongkok. Ketika itu, masyarakatnya tidak mengenal pendidikan dari bangku sekolah, melainkan dari masjid oleh para guru mengaji. Melalui para guru mengaji, selain diajarkan ilmu agama, para pemuda di daerah itu pun dididik ilmu pengetahuan dan juga dilatih silat.
“Bekasi itu sama seperti Tangerang, dikuasai tuan tanah dari Tiongkok. Tiongkok tidak peduli dengan pendidikan, sehingga warga pribumi belajarnya dari guru mengaji,” kata pria penulis buku tentang pahlawan nasional asal daerah itu, Kyai Haji Noer Ali Kemandirian Ulama ini.
Menurut Ali, sekitar tahun 1913, karena kerap terjadi ketidakadilan dari para tuan tanah, warga pribumi melancarkan protes berbekal keilmuan dan silat yang mereka miliki. Dari serangkaian pertempuran itu, dipercaya, membuat masyarakatnya memiliki jiwa pemberani.
“Hingga kini saya menyebut kota jawara ini masih relevan dengan daerah itu. Hanya, kini perjuangannya bukan lagi mela­wan penjajahan, tapi melawan budaya asing yang berpeluang mengikis budaya lokal,” kata dia.
Jawara, hingga kini, juga masih tetap hidup terutama di wilayah Kampung Gabus, Desa Srijaya, Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi. Ketua Jawara Jaga Kampung (Jajaka) Damin Sada mengatakan, selain berjiwa patriotisme, jawara pun memiliki sisi negatif.
Semula jawara dicap sebagai jagoan sekaligus preman yang kerap melakukan hal negatif seperti berjudi, sabung ayam, dan berbuat onar. Namun, kini jawara lebih dekat dengan padepokan silat.
“Dulu disebutnya tukang judi, sabung ayam, tapi sekarang banyaknya sudah beralih. Dulu melawan penjajah, sekarang bagaimana kita menjaga kampung kita. Bukan cuma Kabupaten Bekasi tapi juga Bekasi raya, yaitu dengan Kota Bekasi,” kata pria yang juga dikenal sebagai jawara Bekasi ini.
Damin memastikan, julukan jawara masih relevan dengan daerah itu. Meski demikian, dia tidak menampik adanya kekhawatiran jiwa jawara itu hilang dalam diri masyarakatnya seiring terpaan budaya asing.
Terlebih, daerah itu yang menjadi tujuan urbanisasi sehingga banyak masyarakat daerah bahkan negara lain yang bermukim.
Dikatakan Damin, julukan kota jawara harus didukung penuh oleh pemerintah daerah.

Komentar